Bertemu Obama Ternyata Ada Syaratnya

Bertemu dengan Barack Obama tidaklah gampang, walau yang meminta adalah sesama presiden. Bila ingin bertemu dengan presiden Amerika Serikat (AS) yang tengah populer itu, Slovenia harus memenuhi syarat, yaitu bersedia menjadi tempat penitipan seorang napi asal Guantanamo.

Demikian menurut salah satu bocoran dokumen rahasia pemerintah AS. Bocoran itu dipublikasikan oleh laman Wikileaks, Minggu 28 November 2010, dan dimuat pula oleh sejumlah media massa internasional di AS dan Eropa.

Wikileaks mengungkapkan bahwa satu set lengkap dokumen itu terdiri dari 251.287 data dan terdiri dari 261.276.536. "Ini tujuh kali lebih banyak dari 'The Iraq War Logs,' yang merupakan bocoran informasi rahasia yang sudah dipublikasikan sebelumnya," tulis Wikileaks.

Harian Inggris, Daily Mail, mengungkapkan salah satu bocoran dokumen yang menyebutkan bahwa ada syarat yang harus dipenuhi Slovenia bila ingin mempertemukan presiden mereka dengan Obama. Syaratnya, harus mengambil seorang tahanan dari Guantanamo.

"Slovenia tampaknya diberitahu bahwa bila ingin ada pertemuan dengan presiden, maka mereka harus bersedia menerima seorang tahanan," tulis Daily Mail mengutip bocoran dokumen itu, yang merujuk kepada tahanan asal kompleks penjara Guantanamo.

Terletak di Teluk Guantanamo, lahan itu sebenarnya merupakan pangkalan angkatan laut AS yang mereka sewa dari Kuba. Namun, oleh Presiden George W. Bush, pada 2002 pangkalan itu beralih fungsi menjadi kompleks penjara bagi mereka yang diduga terlibat dalam terorisme.

Sebagian besar tahanan berasal dari Afganistan, Irak, dan juga menampung warga negara-negara lain. Tak lama setelah dilantik jadi presiden baru AS pada Januari 2008, Obama ingin agar semua tahanan dipindahkan dari Guantanamo dan selanjutnya menjalani pengadilan sipil.

Namun, proses itu tidak berjalan mulus karena sejumlah pemerintah lokal di AS menolak menampung mereka sehingga Washington terpaksa melobi negara-negara lain untuk bersedia menjadi tempat penampungan tahanan.

Sementara bocoran dokumen lain mengungkapkan bahwa AS pun berupaya membujuk negara pulau terpencil, Kiribati, untuk menampung sejumlah tahanan Muslim asal China. Kiribati pun ditawari insentif jutaan dolar.  

Bahkan, menurut bocoran dokumen itu, Belgia kemungkinan juga dibujuk agar bersedia mengambil tahanan dari Guantanamo. Sebagai imbalan, AS akan membantu Belgia menjadi salah satu negara terkemuka di Eropa. 

Wikileaks mengungkapkan bahwa satu set lengkap dokumen itu terdiri dari 251.287 data dan terdiri dari 261.276.536. "Ini tujuh kali lebih banyak dari 'The Iraq War Logs,' yang merupakan bocoran informasi rahasia yang sudah dipublikasikan sebelumnya," tulis Wikileaks.

Satu set dokumen itu, menurut Wikileaks, menghimpun laporan kawat diplomatik dari tanggal 28 Desember 1966 hingga 28 Februari 2010. Laporan ini berasal dari 274 kedubes, konsulat, dan kantor misi diplomatik AS di mancanegara.
Menurut stasiun televisi CNN, saat ditanya mengenai bocoran data-data itu, juru bicara Departemen Luar Negeri AS, PJ Crowley, hanya mengatakan bahwa bukanlah kebijakan AS untuk mengomentarinya.
• VIVAnews

Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails